Sudden Death Syndrome: Penyebab, Tanda, Risiko, Penanganan

sindrom-mati-mendadak-doktersehat

Pernahkah Anda mendengar atau melihat kejadian tentang orang yang mendadak meninggal dunia padahal awalnya sedang baik-baik saja. Orang itu bahkan terlihat tidak memiliki sakit apa pun dan jaran sekali mendapatkan perawatan. Lantas apa saja yang menyebabkan kejadian mati mendadak itu? Jawabannya adalah sindrom mati mendadak atau sudden death syndrome.

Apa itu sudden death syndrome?

Sudden death syndrome adalah sindrom mati mendadak yang bisa disebabkan oleh faktor tertentu. Biasanya orang yang mengalami masalah ini memang sudah ada masalah dengan jantung dan sistem kardiovaskulernya. Karena ada beberapa gangguan yang terjadi, kemungkinan terjadi gagal jantung dan kemungkinan meninggal dunia akan besar.

Kondisi sudden death syndrome ini bisa terjadi pada siapa saja dan menyebabkan masalah yang besar. Mirisnya lagi, tidak semua orang tahu dengan kondisi kesehatannya secara menyeluruh. Dari luar mungkin terlihat tidak terjadi apa-apa. Namun, dari dalam, gangguan terus terjadi.

Sudden death syndrome lebih banyak terjadi pada mereka yang masih mudah hingga paruh baya. Orang dengan usia ini sangat mudah mengalami kematian mendadak kalau sistem kardiovaskulernya terus mengalami gangguan. Pada bayi yang baru lahir dan di bawah 5 tahun, sindrom ini juga bisa terjadi dan memicu kematian.

Penyebab sudden death syndrome

Hingga saat ini belum ada temuan yang jelas apa saja yang menyebabkan sudden death syndrome pada seseorang. Namun, ada yang mengatakan kalau mutasi gen yang ada di dalam tubuh membawa kondisi ini. Setiap orang memiliki spesifik yang memicu gangguan pada sistem kardiovaskular. Namun, ada juga sudden death syndrome yang tidak disebabkan oleh masalah gen.

Pengaruh obat juga bisa memicu kondisi sindrom mati mendadak muncul. Beberapa jenis obat yang dikonsumsi secara terus-menerus dan dalam jumlah banyak bisa memicu gangguan ini. Beberapa antibiotik, diuretik, hingga obat anti alergi bisa memicu gejalanya datang. Biasanya seseorang baru tahu kalau memiliki bakat sudden death syndrome setelah gejalanya muncul.

Tanda-tanda sudden death syndrome

Tanda dari sudden death syndrome yang muncul bisa saja langsung parah seperti gagal jantung dan menyebabkan kematian. Jadi, kita tidak akan bisa waspada dengan kondisi tubuh. Namun, beberapa kondisi yang erat hubungannya dengan sudden death syndrome dan harus diperhatikan dengan baik terdiri dari:

  • Nyeri di dada yang cukup intens. Kondisi ini sering muncul saat seseorang melakukan olahraga. Kalau Anda sering mengalami kondisi ini ada baiknya segera memeriksakan diri ke dokter terdekat.
  • Sering kehilangan kesadaran seperti pingsan.
  • Meski tidak berolahraga atau melakukan aktivitas yang cukup intens, gangguan napas bisa saja terjadi. Gangguan ini menyebabkan Anda jadi sulit bernapas dengan santai dan butuh embusan dan tarikan lebih kuat.
  • Sering terasa pusing dan tubuh agak oleng saat berjalan.
  • Detak jantung akan mengalami peningkatan atau menjadi tidak stabil.
  • Mendadak drop saat olahraga dan tubuh menjadi sangat lemas.

Faktor risiko sudden death syndrome

Seseorang bisa mengalami sudden death syndrome karena ada beberapa faktor risiko tertentu. Berikut beberapa kondisi yang membuat seseorang lebih mudah mengalami sudden death syndrome atau tidak.

  • Kalau di dalam keluarga ada seseorang yang mengalami masalah dengan sudden death syndrome, kemungkinan besar akan diturunkan ke anaknya. Kemungkinan ini bahkan di atas 20 persen.
  • Jenis kelamin. Wanita lebih mudah mengalami sudden death syndrome dibandingkan dengan pria.
  • Seseorang yang berasal dari Jepang dan Asia Tenggara termasuk Indonesia lebih rentan mengalami sindrom Brugada dan berpotensi alami kematian mendadak dari ras lain.
  • Seseorang dengan gangguan bipolar disorder. Hal ini bisa terjadi karena salah satu obat untuk menangani masalah ini mengandung lithium. Bahan ini bisa memicu munculnya sindrom Brugada.
  • Pernah mengalami gangguan pada jantung. Kalau seseorang sudah ada sedikit cacat di sistem kardiovaskular kondisi seperti gagal jantung akan lebih mudah terjadi.
  • Mengalami aritmia atau gangguan ritme pada jantung. Seseorang dengan gangguan ini akan lebih mudah mengalami sudden death syndrome .

Pencegahan sudden death syndrome

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya sudden death syndrome:

  • Menghindari olahraga yang memunculkan tanda seperti tidak nyaman, dada sakit, dan kehilangan napas.
  • Segera menyembuhkan demam.
  • Olahraga dengan kesadaran tinggi khususnya kalau ada perubahan pada tubuh.
  • Sebisa mungkin untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah kardiovaskular.

Dengan melakukan beberapa hal di atas, kemungkinan mengalami sudden death syndrome akan kecil meski sudah ada bakat. Lakukan konsultasi dengan dokter terkait masalah ini agar diberi obat atau penanganan yang tepat.

Cara menangani sudden death syndrome

Hingga sekarang belum ada obat yang digunakan untuk menyembuhkan kondisi sudden death syndrome. Kalau seseorang mendadak mengalami serangan di jantung dan detaknya hilang atau kehilangan napas, cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan CPR atau defibrilasi.

Kalau kondisinya membaik biasanya dokter akan melakukan pembedaan untuk melakukan pemasangan implantable cardioverter defibrillator (ICD). Alat ini akan menghasilkan cukup kejutan listrik ke jantung kalau mendadak berhenti. Dengan kejutan listrik ini detaknya akan kembali lagi.

Seseorang dengan kondisi sudden death syndrome memang lebih sering terlambat ditangani. Akhirnya kondisi kematian tidak bisa dihindari. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah mengetahui apakah diri sendiri memiliki bakat itu atau tidak.

Inilah beberapa ulasan tentang sudden death syndrome atau sindrom mati mendadak yang sangat berbahaya. Dengan memahami beberapa informasi di atas, setidaknya kita bisa sedikit waspada dan tidak menyepelekan perubahan kecil yang terjadi pada tubuh. Lakukan pengecekan kesehatan secara rutin agar tidak terjadi masalah pada tubuh.


Sumber : DokterSehat.Com